Selain kerana keamanan Imam Husein sudah terancam, ribuan surat yang datangnya dari penduduk kota Kufah juga menjadi pendorong keberangkatan Imam Husein ke kota itu. Dan sehari setelah khutbahnya itu, Imam Husein berangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang setia, memenuhi panggilan tersebut.

Ketika dalam perjalanan, ternyata keadaan kota Kufah telah berubah. Yazid mengirimkan lbnu Ziyad guna mengantisipasi keadaan. Wakil Imam Husein (Muslim bin Aqil), diseret dan dipenggal kepalanya. Orang-orang yang setia segera dibunuhnya. Penduduk Kufah pun berubah menjadi ketakutan, tak ubahnya laksana tikus yang melihat kucing.

Sekitar tujuh puluh kilometer dari Kufah di suatu tempat yang bernama "Karbala", Imam Husein beserta rombongan yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang; 40 (empat puluh) laki-laki dan sisanya kaum wanita; dan itu pun terdiri dari keluarga bani Hasyim, baik anak-anak, saudara, sepupu dan saudara sepupu; telah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30 (tiga puluh) ribu orang.

Musuh yang tidak berperikemanusiaan itu, melarang Imam dan rombongannya untuk meminum dari sungai Efrat. Padahal, anjing, babi dan binatang lainnya bisa berendam di sungai itu sepuas-puasnya, sementara keluarga suci Rasulullah dilarang mengambil air walaupun seteguk.

Penderitaan demi penderitaan, jeritan demi jeritan, pekikan suci dari anak-anak yang tak berdosa menambah sedihnya peristiwa itu. Imam Husein yang digambarkan oleh Rasul sebagai pemuda penghulu syurga, yang digambarkan sebagai Imam di saat duduk dan berdiri, harus menerima perlakuan keji dari manusia yang tidak mengenal batas budi.

Pada tanggal 10 (sepuluh) Muharram 61 Hijrah, 680 Masehi), pasukan Imam Husein yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang telah berhadapan dengan pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30.000 (tiga puluh ribu) orang. Seorang demi seorang dari pengikut al-Husein mati terbunuh. Tak luput keluarganya juga mati dibantai. Tubuh mereka dipisah-pisah dan diinjak-injak dengan kudanya. Hingga ketika tidak ada seorangpun yang akan membelanya beliau mengangkat anaknya yang bernama Ali al-Asghar, seorang bayi yang masih menyusu sambil menanyakan apa dosa bayi itu hingga harus dibiarkan kehausan. Belum lagi terjawab pertanyaannya sebuah panah telah menancap di dada bayi tersebut dan ketika itu pula bayi yang masih mungil itu harus mengakhiri riwayatnya di dakapan ayahnya, Al-Husein ra.

lanjutkan
back to al kisah
back to anakmanja


Old school Swatch Watches